Selasa, Juni 22, 2010

 

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;”

Yohanes 10:11

Jumat, Mei 21, 2010

Mentan Bakal Hadiri Konferensi Nasional Kelapa

 
 
Menteri Pertanian Suswono menyatakan kesediannya hadir pada Konferensi Nasional Kelapa di Manado pada 26-25 Mei mendatang. Kepastian itu diungkapkan Mentan saat menerima delegasi Sulut di bawah pimpinan Aryanthi Baramuli Putri (ABP) di Kantor Kementerian Pertanian, Jumat (19/3).

Dalam kesempatan tersebut ABP meminta pemerintah pusat khususnya Kementan untuk memberikan perhatian tentang perkelapaan nasional khususnya di Sukut. Menanggapi itu, Mentan berjanji akan memasukkan kelapa sebagai salah satu produk unggulan. Untuk itu dalam Konferensi Nasional Kelapa nanti, akan dicari formula yang pas untuk meningkatkan produk kelapa.

Terkait masalah Balitka, ABP menyatakan bahwa DPD RI meminta agar lokasi blok I, III dan V yang ada dapat dipertahankan dan dikembangkan kembali. Mengingat koleksi plasma nutfah kelapa sekitar 22 akseri hasil eksplorasi dari berbagai provinsi. "Sangat disayangkan kebun induk kelapa dalam unggul sumber benih sudah tergusur proyek pacuan kuda," ujar ABP.

Dia meminta agar Mentan bekerjasama dengan Menteri PU untuk membuat agropolitan/agrowisata di lokasi tersebut. Ini agar lebih banyak manfaat yang akan dirasakan petani dan pariwista.

Mentan sendiri mengaku sudah paham tentang inti permasalahannya. "Saya tahu itu karena dulu saya yang pimpin tim Komisi IV DPR RI kunker ke Balitka. Nanti akan dibahas lagi tentang masalah ini," katanya. (esy/jpnn) (Taken from JPNN.COM

Minggu, Maret 07, 2010

Tiang Pancang Seliweran di Pinggir Danau

Dalam rangka penataan Danau Tondano, Pemerintah Kabupaten (pemkab) Minahasa melalui edaran Bupati Minahasa, mengimbau agar warga pesisir tidak sembarangan memasang tiang pancang di pesisir danau. Ini menyusul menjamurnya tiang pancang yang terbuat dari bambu, dihampir seantero pinggiran Danau Tondano.
Edaran yang dilayangkan kepada pemerintah kecamatan dan desa yang berada di pesisir danau tersebut, intinya melarang pemasangan tiang pancang tanpa izin dari pemerintah. Sebab tiang pancang ternyata dapat memicu pendangkalan sehingga debit air danau menjadi berkurang. Tujuan lain agar pemerintah dapat mengontrol pembuatan jaring apung yang menggunakan tiang pancang.
Meski begitu, pemasangan tiang pancang oleh warga akan tetap diizinkan pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Minahasa. Asalkan, kawasan pesisir danau yang hendak dijadikan tempat usaha warga atau jaring apung, dianggap layak sesuai kajian dari instansi terkait. Sementara dari pantauan harian ini, kondisi pesisir masih dijubeli sejumlah tiang pancang. Baik yang baru dipasang, maupun yang sudah usang.(dav)

Hanya Ada di Danau Tondano, Terancam Populasi Eceng Gondok

Payangka. Masyarakat Minahasa khususnya yang ada di pesisir Danau Tondano mungkin tak asing lagi mendengar nama ikan ini. Kecil, enak dan cocok dimasak dengan berbagai ragam menu. Tapi tahukah kita bahwa perjalanan panjang ikan payangka tersebut semakin terancam buntut memadatnya populasi eceng gondok.
DIGORENG lesat, dimasak dengan menu woku blanga nikmat. Itulah keistimewaan ikan payangka. Ikan berukuran tidak terlalu besar (lebih kecil dari ukuran mujair, red), sebenarnya bisa dijadikan ikon Minahasa. Pasalnya, ikan payangka hanya terdapat di Danau Tondano. “Cuma di Danau Tondano ada payangka,” tukas Kadis Perikanan Ir Dolvi Wowiling.
Sayang, ikan yang bisa “dijual” menjadi salah satu magnet bagi para wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang berkunjung di Danau Tondano, populasinya sudah sangat terancam, menyusul semakin padat dan cepatnya pertumbuhan eceng gondok.
Gulma air tawar ini memang banyak sekali efek negatif ketimbang positifnya. Dengan “kehebatannya” dalam memonopoli O2 (Oksigen) dalam air, jelas saja membuat ikan payangka dan beberapa jenis ikan lainnya kekurangan pasokan oksigen di dalam air. “Untung saja, payangka lebih banyak beraktifitas di dasar air. Kalau dia di atas, bisa-bisa dorang mati karena berebut oksigen dengan eceng gondok,” tukas Wowiling.
Saat ini, populasi ikan dengan nama ilmiah Ophiocara Aporos ini semakin berkurang. Jika tidak disiasati oleh Pemkab dan Masyarakat di sekitar Danau Tondano. Bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan, ikan langkah dan unik tersebut tinggal jadi kenangan. Selain karena “invasi” gulma eceng gondok tersebut, saat ini sudah ada payangka jenis baru yang dilepas pemerintah di danau.
Payangka jenis baru yang memiliki kulit hitam pekat tersebut lebih dominan di Danau Tondano sekarang. Pasalnya, dengan bentuk lebih sangar dan bisa tumbuh dalam ukuran lebih besar dari payangka Ophiocara Aporos, disebut-sebut memiliki sifat predator. Tak heran, sejumlah warga menjuluki payangka monster.

Sabtu, Desember 12, 2009

Christo style

Adek bobo menggapai bintang
--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Simple and user-friendly interface
http://mail.ovi.com

Christo style

Anakku bergaya
--------------------------------------------------------------
Ovi Store: Fresh apps and more
http://store.ovi.com/?cid=ovistore-fw-bac-na-acq-na-ovimail-g0-na-4

Anak ku Chrisna

Lilypie Kids Birthday tickers

Anak ku Christoffel

Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers