Kamis, September 01, 2011

Sumpah Pernikahan, Sampai Maut Memisahkan

Semalam Vernon McAlister bermimpi mengenai wanita yang ia cinta seumur hidupnya—isterinya, Sue. Dalam mimpinya, Sue tengah berada dalam ruangan berhiasan renda yang sangat cantik. Dan ia berdiri dekat jendela, bermandikan sinar matahari, sambil mengenkan gaun dan kerudung berenda. Menunggu untuk dinikahi sekali lagi… Usai mimpi tersebut, Vernon merasa damai, tahu apa yang akan ia lakukan berikutnya.
Ya, ia meminta kepada sejumlah perawat di RS Hospice, untuk membantunya bertahan hidup, hingga ia dapat merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-72 bersama Sue.
Pada hari Minggu (13/6), beberapa hari sesudah ulangtahun pernikahan mereka, pasangan McAlister merayakakan persatuan mereka sebagai suami-isteri dengan memperbaharui sumpah pernikahan.
Tidak seperti pada saat menikah, kali ini mereka tidak merasa gelisah. Betapa tidak, Vermon nyaris berusia 93 tahun, sementara Sue 87 tahun—bersama-sama mereka telah membesarkan lima anak.
Dua tahun lalu, kedua pasangan ini bertahan dari penyakit kanker perut. Dan hingga kini mereka masih memiliki satu sama lain.
“Ia telah merawatku sepanjang hidupku,” kisah Sue kepada Independent Mail. “Ia telah mencintaiku, menghormati, dan menghargaiku, sejak kami masih muda. Oleh sebab itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan saat kau melangkah bersama dengan orang yang kau cintai sepenuh hati.”
Dengan balutan gaun berwarna merah muda dan kerudung berwarna putih, pengantin perempuan itu menunggu mempelainya di ruang yang terpisah.
Hanya beberapa meter jauhnya, sang suami dari ruangannya berteriak-teriak, “Di mana pengantin saya?” serunya.
Tak berapa lama kemudian, mereka pun berkumpul dengan sahabat dan sanak keluarga di ruang makan di Rainey Hospice House.
Dan, meski Vernon masih berbaring di ranjang rumah sakit, matanya terbuka sewaktu melihat Sue. Saat mereka menikah, Vernon hampir berusia 21 tahun, sedangkan Sue 15 tahun.
“Ayahku berkata bahwa Sue akan menjadi istri yang baik,” kata Vernon. “Aku tidak dapat membayangkan betapa benarnya ayahku. Sue benar-benar istri yang baik. Ia adalah permata.”
Pasangan ini bertemu pertama kali di pertanian milik ayah Vernon.
Sue dan ibunya memetik kapas di pertanian tersebut, belakangan ibu Sue memintanya untuk menghampiri Vernon dan memulai percakapan.
“Aku ingat Vernon tersenyum padaku. Senyuman yang sangat indah,” kenang Sue. “Dan sampai sekarang pun tetap indah.”
Hampir tigapuluh tahun kemudian, Vernon pensiun dari pekerjaannya sebagai dosen ilmu pertanian di Clemson University, Amerika Serikat, dan memilih melayani sebagai relawan di gereja.
“Hidup kami tak selalu mudah,” jelas Sue. “Tapi jika Anda menempatkan Tuhan sebagai yang terutama, Anda dapat memikul beban Anda, demikian pula dengan pernikahan Anda.”
Dokter meyakini bahwa hidup Vernon tinggal menghitung hari. Ini karena, baru-baru Vernon mengalami patah tulang di bagian pinggul. Vernon pun telah berada di rumah sakit sejak tiga minggu lalu—di mana sang isteri tinggal di rumah perawatan yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tersebut.
Namun, pada hari Minggu lalu mereka saling bersisian dan berpegangan tangan. Sue gemetar saat ia mencium suaminya; menangkupkan dagu sang suami dengan kedua tangannya, dan kemudian membelai rambutnya. Vernon menatapnya dengan tersenyum dan berlinang air mata.
Salah seorang teman, Bill French, yang juga memimpin upacara pembaharuan janji pernikahan, berkata, “Ketika Anda mengucapkan sumpah pernikahan bertahun-tahun lalu dan berkata, ‘Kita akan membagi segala kegembiraan, kesedihan, selama kita berjalan bersama-sama’… tidak ada seorang pun yang tahu seberapa panjang perjalanan tersebut,” kata French. “Anda telah memenuhi janji Anda, dan Tuhan pun tersenyum.”


http://www.glministry.com/wp-content/themes/beborn/images/hopsice_21.jpg

Minggu, Juli 17, 2011

A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan karakter dan jati diri bagi setiap bangsa. Bangsa Indonesia memiliki keragaman budaya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote dengan keunikan dan identitas masing-masing. Keragaman Budaya tersebut harus didokumentasikan dan dipublikasikan kepada masyarakat sehingga timbul peduli untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan.
Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia merupakan wahana yang efektif dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil-hasil kebudayaan. Foto di samping sebagai alat dokumentasi juga sebagai media komunikasi visual mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebarluasan informasi.
B. Tujuan
Memberikan ruang ekspresi dan apresiasi kepada masyarakat pecinta fotografi untuk dapat meningkatkan kreativitas dalam pengambilan objek budaya.
Mendorong tumbuhya rasa cinta terhadap hasil budaya bangsa Indonesia baik yang diwariskan nenek moyang , maupun yang sedang berkembang saat ini.
Menginventarisasi dan mendokumentasikan keragaman budaya Indonesia yang tersebar di 33 provinsi.
Memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.
C. Tema
“Wonderful Indonesia”
D. Kategori Peserta Lomba
Pelajar
Mahasiswa
Umum
E. Ketentuan Umum:
  1. Lomba ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, Warga Negara Indonesia;
  2. Tidak dipungut biaya;
  3. Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, belum pernah dipublikasikan di media cetak skala nasional dan belum pernah memenangkan penghargaan dalam lomba fotografi tingkat nasional atau internasional;
  4. Foto yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil foto yang benar-benar dari pemotretan baik menggunakan kamera digital atau kamera analog (kamera film);
  5. Peserta diberikan kebebasan dalam memilih objek hasil-hasil kebudayaan bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh tanah air;
  6. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 5 buah karya foto;
  7. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa merubah keaslian objek (sharpening, cropping, color balance, dan saturasi warna);
  8. Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto atau menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto;
  9. Setiap foto harus dilengkapi identitas diri peserta seperti: kategori, nama fotografer, judul foto, alamat, nomor telepon/hp, e-mail atau secara terpisah dilampiri diskripsi karya dan fotokopi identitas diri seperti kartu pelajar, kartu mahasiswa, KTP, SIM atau surat keterangan lainnya;
  10. Hak cipta melekat pada fotografer, namun Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diberikan hak untuk mempublikasikan semua foto yang masuk ke Panitia untuk kepentingan non-komersial tanpa harus ijin dari pemiliknya. Panitia dibebaskan tuntutan pihak III bila foto digunakan untuk kepentingan komersial;
  11. Foto yang dikirim ke Panitia tidak dikembalikan dan menjadi koleksi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;
  12. Tata cara/prosedur pengiriman karya:
  13. Karya foto diperkecil (resize) dengan ukuran sisi terpanjang 1024 pixel, disimpan dalam JPG skala 6, dan dikirim ke Panitia melalui e-mail dengan alamat: lombafotonasional2011@senimedia.org / lombafotonasional2011@gmail.com
  14. Pengiriman karya dimulai bulan Juni 2011 dan ditutup tanggal 29 Juli 2011 pukul 19.00 WIB;
  15. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh Panitia;
  16. Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan;
  17. Seleksi karya untuk memilih 30 nominator, yang terdiri dari 10 foto kategori pelajar, 10 foto kategori mahasiswa, dan 10 foto kategori umum, pada tanggal 1 Agustus 2011;
  18. Para nominator akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop dan hunting pemotretan pada tanggal 16 – 17 Agustus 2011;
  19. Panitia akan menanggung biaya transportasi peserta (dari daerah asal ke Jakarta P.P.) yang terpilih sebagai nominator, transportasi lokal, akomodasi dan konsumsi selama mengikuti workshop dan hunting pemotretan di Jakarta.
  20. Pengumuman pemenang pada tanggal 17 Agustus 2011;Penyerahan hadiah pada tanggal 18 Agustus 2011; Pajak (PPh) hadiah ditanggung pemenang;
  21. Keputusan dewan juri mutlak tidak dapat diganggu gugat;
  22. Panitia akan memilih 40 karya foto terbaik dari setiap kategori yang layak untuk dipamerkan bersama dengan 30 karya nominator, pemenang Lomba Cipta Seni Pelajar, dan karya-karya foto undangan;
  23. Pameran akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Agustus 2011 di Jakarta;
  24. Untuk informasi Lomba peserta dapat mengunjungi Website: www.senimedia.org
  25. Koordinasi lebih lanjut dapat menghubungi:  Pustanto telp. 021 – 5725561, 0811831866.Yusuf Hartanto telp. 08176011066 atau Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian Gedung “E” Lantai 9, Komplek Kemendiknas.Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270. Telepon/faksimili: (021) 5725561, 5725534
F. Hadiah
Pelajar mendapatkan hadiah:
  • Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
  • Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
  • Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
  • Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
  • Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
Mahasiswa mendapatkan hadiah:
  • Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 15.000.000
  • Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 8.000.000
  • Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 6.000.000
  • Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 4.000.000
  • Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 2.000.000
Umum mendapatkan hadiah:
  • Juara I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 20.000.000
  • Juara II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 10.000.000
  • Juara III: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 7.500.000
  • Harapan I: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 5.000.000
  • Harapan II: Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp. 3.000.000
G. Kriteria Penilaian
Kesesuaian Tema (isi foto)
Daya tarik
Keunikan
Harmonisasi
H. Juri Lomba
  1. Arbain Rambey (Fotografer, Editor Foto Kompas, Jakarta)
  2. Darwis Triadi (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
  3. Ferry Ardiyanto (Fotografer dan Dosen Universitas Trisakti, Jakarta)
  4. Goenadi Haryanto (Fotografer dan Dosen, Jakarta)
  5. Sri Bimo Seloaji (Fotografer, Jakarta)
I. Penutup
Hal-hal yang belum tercantum dalam Petunjuk Teknis ini, akan diberitahukan lebih lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Jumat, April 01, 2011

Martabak Manis (Terang Bulan)




Bahan :
- Tepung terigu protein sedang 350 gram -
- Gula pasir 5 sdm -
- Ragi instan 1/2 sdt -
- Vanili bubuk 1/2 sdt -
- Air 450 ml -
- Telur ayam 2 butir, kocok lepas -
- Garam 1.2 sdt -
- Soda kue 1/2 sdt -
- Mentega 100 gram -

Bahan isi :
- Coklat meses 50 gram -
- Kacang tanah 50 gram -
- Wijen 2 sdt, sangrai -
- Susu kental manis secukupnya -
- Keju cheddar 50 gram, parut -

Cara membuat :
1. Campur terigu, 2 sdm gula, ragi, vanili, air dan telur, aduk rata. Tambahkan garam, aduk rata dan diamkan selama 30 menit.
2. Tambahkan soda kue, aduk rata ketika akan dipanggang.
3. Panaskan cetakan martabak manis, tuang dan ratakan adonan hingga penuh.
4. Masak hingga permukaan berpori, taburkan sisa gula pasir secukupnya.
5. Tutup cetakan, masak hingga matang. Angkat.
6. Oleskan mentega hingga rata,
7. Tambahkan bahan isi secukupnya.
8. Lipat bentuk setengah lingkaran. Oles kembali dengan mentega, potong sesuai selera.
9. Sajikan.

Untuk 12 potong

Jumat, Februari 18, 2011

Bikin sendiri ternyata mudah, tidak harus menggunakan mesin pembuat es krim (Eismaschine)


Bahan Dasar
475 ml  Sahne (cream/kepala susu)
125 ml  Susu cair (atau bisa juga santan kelapa)
4  butir telur
100 ml  gula (lebih bagus lagi kalau feiner Zucker / gula halus)
1 sendok teh vanilli
Rasa
Terserah Anda (apokat, coklat/Blockschokolade, Erdbeer/strawberry, pisang, etc.).
contoh : 1 buah apokat
Alat

blender
freezer / Gefrierfach, Gefriertrühe
panci kecil
wadah es krim
kompor

Cara Pembuatan
Adonan 1
Apokat diblender, kemudian ditaruh ke dalam panci. Masukkan Sahne dan susu/santan. Seluruhnya dipanaskan pelan-pelan sambil terus diaduk (Elektroherd : angka 2). Jika sudah panas (gelembung udara mulai naik), panci diturunkan.
Adonan 2
Telur (kuning+putihnya), gula, dan vanili diblender (dikocok). Lalu dituangkan ke dalam panci berisi adonan 1.

Semuanya kemudian dipanaskan lagi, sambil diaduk terus hingga mengental.

Setelah kental, dituangkan ke dalam wadah es krim (rantang atau sejenisnya) ditaruh ke dalam kulkas (Kühlschrank) selama 3-4 jam.

Setelah itu dipindahkan ke dalam freezer (Gefrierfach), setiap 1 jam diaduk, supaya tidak terjadi pengkristalan es. Setelah 3-4 kali pengadukan ( = 3..4 jam) menurut pengalaman tidak perlu lagi diaduk. Jika es krim yang jadi terlalu keras/liat, sebaiknya 10 menit dikeluarkan sebelum disantap.

Selamat Mencoba

Senin, Januari 10, 2011

HAPPY NEW YEAR

“HAPPY NEW YEAR”

    To

       EVERYBODY

Sabtu, Desember 25, 2010

MERRY CHRISTMAS




MERRY CHRISTMAS for ALL...JESUS DATANG KE DUNIA UNTUK MENEBUS DOSA MANUSIA, KARENA ITU ALLAH DATANG KE DUNIA SEBAGAI MANUSIA MELALUI YESUS YANG ADALAH ANAKNYA YG TUNGGAL AGAR SUPAYA ORANG BERDOSA DIAMPUNI...DAN BAGI MEREKA YG TIDAK PERNAH MENGENALNYA HINGGA WAKTUNYA KAN TIBA, TUHAN AKAN DATANG DIHATI MEREKA DAN MENYATAKAN KEBESARAN-NYA HINGGA LUTUT KAN JATUH KE TANAH DAN WAJAH TAK DAPAT KAMI SEMBUNYIKAN KARENA MALU AKAN SGALA PENGORBANAN MU TUHAN YESUS DIMUKA BUMI INI, DISETIAP KEHIDUPAN MANUSIA DAN DI SETIAP HATI YG MENGENAL DAN TDK MENGENAL TUHAN YESUS..."KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL AGAR KITA MENDAPATKAN HIDUP YANG KEKAL". AMIEN.

Sabtu, Oktober 16, 2010

Hachiko, Kesetiaan yang Dibawa Mati...

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Professor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Professor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing Dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Professor itu setiap Hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap Hari setia menemani Professor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang professor kembali. Dan ketika Professor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap Hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah Dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Professor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang professor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempatnya mengajar. Usia yang semakin senja Dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal Dan payung yang terbuka, Professor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.

Tempat mengajar Professor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan Dan kebiasaan Professor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.
Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Professor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Professor Ueno Dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Professor naik ke gerbong yang biasa dia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya professor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan," saya akan menunggu tuan kembali."

" Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang..." teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,"guukh!"
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian professor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di kampus, Professor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga Ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Professor yang kebetulah lewat koridor kampus.
Tiba-tiba Ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Professor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Professor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Professor Ueno menderita penyakit jantung, Dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong Dan menyadarkan kembali Professor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Professor Ueno meninggal dunia.

Segera kerabat Professor dihubungi. Mereka datang ke kampus Dan memutuskan membawa jenazah professor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Professor di Shibuya.
Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Professor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang Ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat Dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali Ada kereta datang, mengharap tuannya Ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja dia harus kecewa, karena Professor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua Hari kemudian, Dan berhari-Hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu Dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko Dan penasaran kenapa Professor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Professor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi Dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu Dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiko pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai...

Anak ku Chrisna

Lilypie Kids Birthday tickers

Anak ku Christoffel

Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers